Aku hanya menjaga hati. Walaupun aku tidak sesuci maryam bin imron, aisyah ataupun Fatimah. Biarkan hijab itu tetap tertutup rapat. biarkan ia tersibak indah pada waktunya.
%&((*&^%$#@#%^*())_+*%#,
Bingung, tuts-tusts keyboard mana yang harus aku tekan. Untuk mewakili sebuah rasa tanpa ada luka. Sedangkan pada dialog chat ia sudah mengetikkan sepasukan huruf, aku yakin ia menunggu respon. Satu, dua, tiga, empat. Ada Empat pemberitahuan dilayar laptop. pertanda empat kali ia sudah menulis kalimatnya dalam chat. Bersamaan dengan itu layar memoryku otomatis terbuka ,merekap ‘sesuatu’ yang harus kusampaikan. tidak mudah sepertinya…,
****
“jika ia datang menawarkan cinta apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan kasih. Aku mendiamkannya, tak ada jawaban dariku. “jika ia meminta jawaban kepadamu atas tawaran cintanya, padahal kau juga menyukainya?” kembali ia menanyakan pertanyaan yang sama. Matanya mengerling, seakan-akan menodong sebuah jawaban dariku. Ingin aku berlalu begitu saja dan tidak memberi jawaban apapun. Tetapi aku tidak bisa berpaling dari aura malaikatnya, dari bidadari tanpa sayapku. Aku tumbuh dari bagian tubuhnya. Aku bermula dari gumpalan darahnya. aku besar dengan menghisap air susunya. Wanita yang kusebut ibu itu, memang tidak bisa diacuhkan begitu saja. Apapun yang terjadi…
“ibu, tentu masih ingat cerita tentang cinta Fatimah, putri Rosululloh ? Cerita yang sangat romantis.” Kemudian aku becerita. kisah yang sudah sekian kali kuceritakan. “bermula ketika Fatimah jatuh hati pada seorang lelaki. Namun ia merasakan ketegangan yang sangat, ketika abu bakar berkeinginan meminangnya. Abu bakar adalah Sahabat yang tidak diragukan lagi keimanannya, hingga ia dijuluki ashidiq (pembenar). Berapa kali rosululloh sering menyatakan didepan umum bahwa orang yang paling dicintai adalah abu bakar asidiq. Ketegangan melanda Fatimah, ia mengharapkan orang lain. Tapi mengingat sosok yang datang itu adalah abubakar, rasanya Rosul akan menerimanya. Fatimah bisa lega sejenak, karena Rosululloh menolak sahabat yang paling ia cintai.
Tidak lama kemudian Fatimah merasakan ketegangan yang sama. Kala Umar yang datang. Umar bin khotob, sang singa padang pasir. Siapa yang tidak mengenalinya? ketegasannya dalam menegakkan kebenaran dan memerangi kebatilan membuatnya menjadi sosok yang disegani. Bahkan syaiton pun menyingkir apabila umar lewat. Fatimah kembali harus bersitegang dengan dirinya sendiri tatkala Umar datang untuk meminangnya kembali. Kelegaan yang dahulu Fatimah rasakan kembali ia alami. Karena Rosululloh kembali menolak lamaran itu.
Tetapi ketika pria kecil yang jauh lebih muda datang untuk meminangnya, Rosululloh malah menerimanya. pria itu jauh lebih muda dari sosok umar bin khattab. Tidak sekaya abu bakar, sangat jauh malah. Tetapi pria kecil itu harus menahan nafas ketegangan, hatinya tidak karuan ketika dimalam pertamnya Fatimah berkata: “maaf sebelumnya saya pernah jatuh cinta pada seorang pemuda..,”
Pria kecil itu begitu terpukul, hingga ia berucap “lalu mengapa kau mau menikah denganku..,??”Fatimah lalu mejawab:’karena pemuda itu adalah orang yang berdiri didepanku saat ini (pria yang ada dihadapannya adalah pria kecil itu)’ Jawaban surprise Fatimah memberi ending yang ‘so romantic’ kepada pria kecil, yang mempunyai nama asli: ali bin abi thalib” begitulah aku bercerita hingga selesai.
Kini tugasku kembali menjawab pertanyaan muara cintaku. “walau aku tidak sesuci maryam bin imron. Atau tidak semulia fatimah ataupun aisyah yang sedari kecil berada dalam madarasah nebawi, didik dengan tangan rosul sendiri. Tapi aku ingin menjaga hati seperti mereka. Bahkan yang membuatku terpukau, Fatimah begitu pandai menjaga kemuliaannya. Setanpun tak mampu menggodanya dalam asmara. Bahkan setanpun tidak tahu jika Fatimah jatuh cinta, ia begitu pandai menjaga perasaannya sendiri” aku mengerling padanya, tampaknya peri kecilku masih setia mendengarkan cerita panjangku. “jadi seandainya ada yang datang menawarkan cinta dan membutuhkan jawaban. Sedangkan saat itu aku belum siap, maka Tidak akan Kujawab IYA ” malaikat penjagaku Nampak terkejut. “walaupun engkau menyukainya?” Tanyanya, lebih tepatnya ia memprotes. “bagiku tidak ada komitmen, adanya ‘sekarang’ atau ‘tidak’. Tidak kubiarkan sedikitpun ada celah di hatiku untuk sesuatu yang belum ‘halal’ . aku haya ‘MENJAGA HATI’ …,”kataku meyakinkan.
“tapi bila kau juga menyukainya? Jika engaku mencintainya?” ia kembali bertanya.
“akan kukatakan saya tidak berkuasa menjawab ‘ya’ jika memang Allah menjodohkan, kelak pasti akan dapt bersatu. Jika takdir berkata lain, maka dia aka mendapatkan yang lebih baik bagiku. Begitu juga denganku, kelak akan mendapat yang lebih baik dari dia” aku tahu malaikat wanitaku rsanya masih belum puas. Malaikat ku menutup pembicaraan kami: “seorang pria tidak puas dengan jawaban seperti itu. Kau harus bilang terlebih dahulu jika kau ‘menyukainya’. Itulah kalimat yang dibutuhkan…,” ******
kembali pada layar laptop, yang merequest untuk menekan tuts-tutskeyboard. ‘dia’ ingin meminjam bukuku lewat pertemuan dia dan aku, dia meminta persetujuanku . Dengan yakin aku mengetik, hingga muncul dalam dialog chat kami: ‘mas bisa pinjam buku saya, tapi saya tidak bisa menemui mas. tahu kenapa???’ tak ada jawaban dari kalimat tanyaku. Masa bodoh, kuteruskan untuk mengetik karena saya takut calon suami saya tidak ridho, saya ketemuan dg mas.., saya memang punya calon suami, tapi saya tidak tahu dia siapa.., hehehehhehe…..,^_^” tidak ada sahutan lagi. Aku yakin ia orang yang paham agama. saya tetep ngotot menyerbunya dengan sepasukan kalimat lagi. ‘saya hanya ingin menjaga hati saja…., dan menurut saya, begitu juga dg ‘chat’ kita.., saya rasa, saya tidak bisa memberikan solusi.., jika mas ingin curhat, mungkin bisa pada orang yang lebih berkompeten…, (apa saya salah? menurut mas bagimana??)’ kali ini saya yang meminta sebuah persetujuan.
Dia mengirimkan sebuah kalimat ringkas. ‘aku cukup salut kamu tegas menjaga komunikasi’
Aku menutup dialog chat kami :’ kita chatnya kalu memang benar-benar perlu. tidak menutup kemungkinan saya akan memulai ‘chat’ dg mas, jika saya butuh pertanyaan.., terimaksih, selama ini telah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. “wassalamu’alaikum..,’ Kutekan tombol enter, dan aku merasa puas. Bicara hati, saya sepakat dengan saudaraku. Ia menuliskan dalam bait-bait indahnya, seperti ini: ‘ Hati wanita itu selembut kapas… Kau tau kapas ? Jika bagian ujungnya terkena setetes air, maka akan ikut basahlah seluruh bagiannya…
Itulah jawaban panjang yang tidak dapat kukatakan, ketika teman-teman SMA ku dahulu panasaran. Mereka menebak-nebak, siapa kiranya yang aku taksir. Bahkan kerap kali diantara mereka bertanya :”dini kamu pernah jatuh cinta gak sih..,???” pertanyaan itu hanya kujawab dengan slengekkan: ‘gini-gini saya juga masih normal lo, hehheheh..,”
Seandainya mereka tahu jawaban ya ng tersimpan didalam hatiku:
Walau aku tidak sesuci mariam binti imron. Atau semulia aisyah dan Fatimah. Saya hanya berusaha menjaga hati. Disini sudah ada alarm untuk ‘dilarang jatuh cinta’ aku hanya ingin mengalami jatuh cinta sekali saja, yang pertama sekaligus yang terakhir.
Jatuh cinta di saat pangeranku berikrar: ‘aku terima nikahnya….,’
Untuk sementara ini Biarkan hijab itu tetap tertutup rapat. biarkan ia tersibak indah pada waktunya